Deadline Perangkap Cinta
Karya : Murniasih(KPkers Hk)
Saimin anak tertua dari lima bersaudara, sebagai anak pertama tentu tanggung jawabnya sangat besar sebagai anak laki-laki pula, maka tidak heran bila usianya sudah menginjak kepala tiga belum juga memiliki keinginan untuk berumah tangga. Maka seisi rumah dibuat galau lantaran sang tertua belum juga menemukan pasangan. Adeknya selalu merengek untuk menikah, selalu mendesak bagaimana pun caranya agar sang kakak cepat-cepat menemukan jodohnya. Berkali-kali sang adek tak mau berbicara lantaran sang kakak belum juga menikah, berkali-kali dijodohkan belum juga menemukan pasangan yang cocok. Semua jengkel dan marah adek pertama berusia 28 tahun bernama Angga, adek ke-dua berusia 25 tahun, Adek ke tiga berusia 23 tahun, baru yang bontot permpuan berusia 17 tahun masih kelas dua SMK.
“Le cepatlah mencari jodoh, umurmu sudah 34 tahun tapi kamu sama sekali belum menemukan pasanganmu?” ucap Eyang Putri.
Di sofa panjang pada ruang tamu, Saimin tak mampu berkata atau pun menjawab perintah sekaligus pertanyaan yang sangat menyesakan dada. Terlebih bila dia kembali melihat posisinya di antara adek-adeknya yang tidak jauh perbedaan umurnya. Dulu katanya sang Ibunda becerita kalau perbedaan umur mereka tidak begitu jauh lantaran rencana, juga menginginkan kehadiran anak perempuan lalu berhenti mengandung tapi ternyata itu tidak terwujud hingga kelahiran ke-empat anak laki-lakinya barulah untuk kelahiran yang ke-lima munculan Andini putri semata wayangnya jaraknya pun tidak terlalu dekat karena sempat putus asa untuk tidak hamil lagi. Tapi atas bujukan Eyang putri mereka barulah Ibu Sarijah berusaha untuk hamil lagi.
*****
Di Kantor tempatnya dia bekerja ada pendaftaran sekertaris karena sekertaris lama akan segera mengundurkan diri perihal akan mengikuti karir sang suami ke Amerika. Saimin mencoba menyeleksi sendiri,
“Can you speaking English?” Saimin mengrahkan pertanyaan pada no urut ke109.
“Eh … maaf Tuan bicara dengan saya?” Betty berkata dengan mimik kebingungan.
“Kamu lulusan apa?” Saimin mendekatkan wajahnya sedikit bangkit dari kursi.
“Saya Cuma lulusan SD pak.” Wajah lugu Betty menjawab kebenaran dari pernyataanya.
“Keluar kamu kami tidak butuh pekerja berpendidikan rendah.”
“Tidak mau Pak pokoknya saya mau bekerja apa saja di Sini, aku ga mau pulang kampung pak tolongin saya Pak, apa pun akan saya lakukakan aku tidak mau gagal karena saya ke sini hanya ingin bekerja.”
Betty meronta saat sang sekuriti menariknya dari ruangan. Tiba-tiba Saimin teringat kembali pada peristiwa perjodohan yang diinginkan Eyang Putri.
“Stop.” Akhirnya security melepaskan Betty.
“Keluar kamu Paijo.”
“Siap Pak.” Paijo mengangkat tangan sebagai salam hormatnya.
“Benar kamu mau bekerja apa saja denganku? Bila aku meminta kamu untuk menjadi istri saya … maksud saya calon istri pura-pura saya. Apa kamu setuju?”
Karena memikirkan desakan sang Nenek untuk segera menikah kalau tidak dia akan dijodohkan dengan wanita yang tidak pernah dia kenal sama sekali dari sahabatnya di Australia.
Betty malah terlihat bingung, gaya udiknya dari kampung membuat akalnya untuk menjalankan rencana kalau bila Betty dibawa ke rumah maka semua akan kecewa dan tidak lagi akan memaksanya untuk segera menikah.
“Kamu sanggup bayar saya berapa untuk pura-pura menjadi calon istrimu?”
“Tiga Puluh Juta Rupiah.” Saimin mengangkat tiga jarinya. Jari telunjuk, tengah dan manisnya.
Betty melongo seolah tak percaya bila sekolah Sd bisa menghasilkan uang begitu besar dengan hanya berpura-pura menjadi calon istri bos besar.
****
Semua sangat menyukai kepribadian Betty yang sangat baik, gayanya yang lugu ternyata malah mampu menghipnotis semua seisi rumah. Saimin kalang kabut sendiri, karena mau tak mau maka dia pasti akan menikah juga dengan Betty pilihan sebagai calon istri pura-puranya.
Acara makan malam semua keluarga berkumpul semua, pada sesi itulah tiba-tiba eyang putri mengatakan kalau pernikah akan dilaksanakan satu minggu lagi. Saimin dan Betty sama-sama terbatuk saat menelan makanan. Betty pun menginjak kakinya sebagai tanda kebingungannya.
Kini dateline cintanya berakhir di pelaminan. Perkawinan sandiwara dan adek-adeknya menyusul melakukan pernikahan. Mereka tidak pernah tidur satu ranjang, Saimin selalu tidur di Soffa. Penikahan itu terjadi demi keinginan adek-adeknya untuk bisa melakukan perkawinan. Betty mau menjalani perkawinan itu demi menghidupi adek-adeknya yang juga membutuhkan biaya untuk melanjutkan sekolah. Akhirnya dia tidak lagi dijodohkan dengan tua Bangka yang kaya raya tapi sudah bau tanah.
*****
Meskipun mereka tidak pernah satu ranjang tapi Betty sangat bisa melayani, sebelum Saimin bangun Betty selalu sudah mandi dan membuatkan kopi manis dan menyiapkan segala keperluannya dari baju, celana dalam, handuk dan sarapan pagi. Meski tidak pernah bersentuhan tubuh karena mereka telah melakukan perjanjian hitam di atas putih untuk tidak melakukan kontak fisik itu syarat yang diajukan Betty.
Diam-diam Saimin memperhatikan wajah ayu Betty, wajahnya hampir mirip dengan penyanyi legendaries Alda Risma. Bibir yang merah dan beralis tebal. Tiba-tiba seutas seyuman tersungging di wajah Saimin, dan kembali menyeruput kopi manisnya saat mereka berdua sarapan. Betty yang tidak pernah berkata banyak, bertemu paling pagi hari dan malam hari. Mereka masih tinggal satu rumah karena atas permintaan Eyang yang tidak mau ditinggal Saimin cucu kesayangannya.
“Kamu seyum-seyum sendiri terus dari tadi? Cantik ya istrimu ini?” Eyang putrinya memegang pergelangan tanganya Betty.
Tatapan mereka saling berpandangan, mereka berdua menjadi salah tingkah dan malu. Keduanya hanya terseyum memandang wajah penuh garis keriput yang ada di hadapannya.
“Adek kamu Si Angga sudah isi, kapan kamu betty akan berikan cicit untuk Eyang.”
Keduanya menjadi bingung dan resah. Sejak kejadian itu mereka saling bingung untuk bisa mewujudkan keinginan sang Eyang. Walau pun sebenarnya di antara mereka sebenarnya sudah ada cinta. Pernikahan yang mereka rancang ternyanyata telah mampu menjebak mereka dalam lingkaran cinta yang sebenarnya.
HONG KONG, 29 November 2015
Revisi 1 Agustus 2017








