Selasa, 01 Maret 2016

Sejarah Sastra Indonesia bagi BMI( Hong Kong)



Panggung Literasi
Oleh : Murniasih


Dunia literasi atau orang lebih mengenalnya dengan istilah dunia tulis menulis. Menulis pada dasarnya sudah ada sejak jaman nenek moyang kita, baik pada batu, daun, kulit binatang, kerang, tanah atau pun media lainya, semakin majunya tekhnologi  semakin baralih meunuju  kertas, mesin ketik, hingga perangkat lunak Microsof Word pada komputer.
Dunia sastra tidak mungkin akan pudar sampai bumi ini berhenti. Sejarah dunia literasi bisa kita simak dari abad ke-19 SASTRA “MELAYU LAMA” yang cukup berkembang pesat. Pada tahun 1870-1942 PUJANGGA LAMA lahir, pada masa itu pekerjaan tulis menulis dipandang sebagai pekerjaan mulia. Dari orang biasa, orang berpangkat hingga Putra Mahkota.  ANGKATAN BALAI PUSTAKA lahir pada  tahun 1920-1950, PUJANGGA BARU pada tahun 1930-1942 dipelopori oleh   Sutan Takdir Alisjahbana atau dikenal dengan istilah STA, beliau adalah ahli bahasa Indonesia, bahkan pada masa pendudukan jepang masih ada STA sudah melakukan modernisasai bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa. Tepatnya pada tahun 1936 beliau melakukan Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia yang mana masih dipakai sampai sekarang. Gerakannya tidak hanya cukup sampai di situ dengan pembuatan Kamus Istilah  yang berisi istilah-istilah baru yang dibutuhkan oleh Negara Baru yang ingin mengejar modernisasi dalam berbagai bidang. Sebagai penulis ahli dan Ketua Komisi Bahasa semasa pendudukan jepang hingga merdeka beliau belum  bisa mewujudkan cita-cita terbesarnya yakni menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantarkawasan di Asia Tenggara. Ia kecewa , bahasa Inonesia semakin surut perkembangannya. Padahal masa sejarah Bahasa Indonesia pernaha menggetarkan dunia linguistik saat dijadikan bahasa persatuan untuk penduduk di 13.000 pulau di Nusantara .

Masa Kemerdekaan yaitu  Anggkatan tahun 45 seperti Chairil Anwar, Angkatan 50-an Pramoedya Ananata toer, Tahun 1960 dunia literasi mengalami kemunduran karena pecahnya G30S di Indonesia. Angkatan 66-70 terbitnya majalah Horison, DASAWARSA 80-an seperti Yudistira Adinugraha, Remy Sylado, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Arifin Noor Hasby. Tahun 1997 sebuah oraganisasi kepenulisan lahir di Jakarta yang bernama Forum Lingkar Pena yang didirikan oleh Helvi Tianarossa. Bak jamur di musim hujan sejak saat itu hingga kini lahirlah penulis-penulis dan komunitas-komunitas baru. Sejak saat itu pulalah dunia literasi mengalami perkambangan yang sangat tajam.  Indonesia seperti terjangkit virus literasi. Tidak dipungkiri semua mejatuhkan pilihan untuk mengembangkan bakatnya di dunia literasi. Banyaknya pesaing malah membuat semangat lebih berkobar.
Di Hong Kong sendiri dalam kurun waktu sepuluh tahun lebih, BMI yang melek teknologi digital mencoba menyalurkan hobinya lewat jejaringan sosial baik facebook, menulis di blog pribadi, alasannya  sebagai sarana produktif untuk menegosiasikan ruang geraknya. Menulis sendiri  bisa sebagai sarana terapi jiwa begitu menurut pendapat sastrawati  yang bernama Naning Pranoto. Sedangkan menurut   Habiburrahman El Shirazy atau lebih dikenal dengan Kang Abik  penulis terkenal ayat-ayat cinta, Ketika Cinta Bertasbih dan Api Tauhid sendiri mengatakan menulis itu penting karena akan bisa membangun sebuah peradaban. Ketika manusia mampu menulis ketika itu juga manusia akan berumur panjang, maksudnya adalah ketika   telah mati  maka masih ada karya yang akan tetap hidup.
Maka peristiwa sejarah tidak akan pernah ada, tanpa kita mau menuliskannya. Sejarahlah yang mengajarkan kepada generasi penerusnya. Menulislah agar kita bisa melahirkan pemikir dan para penggerak bangsa. Karena dengan menulis pula akan mampu mengubah nasib  seseorang, lihatlah dari kebanyakan para pemimpin besar yang suka menulis seperti, Kartini, Soekarno, Habibi, Susilobambang Yudhoyono, Walt Disney, Volt mereka akan tetap abadi dalam  sejarah.


Lahirnya komunitas-komunitas penulis seperti FLP (Forum lingkar Pena) pada tahun  16 Februari 2004  dan kini telah hadir juga yaitu Komunitas Penulis Kreatif(KPKers HK). Komunitas-komunitas ini turut andil menuntun para BMI dalam menyalurkan hobi hingga menjadi manusia yang berdaya dan menorehkan prestasinya. Dengan visi dan misi untuk membuka mata dunia bahwa BMI memiliki sisi kehidupan yang lain dari sekedar buruh domestik.  Dan diyakinkan dengan penuturan Dorotty Holland “Seorang  BMI itu cerdas, melek tekhnologi dan mampu bersosialisasi(1998). Mega Vristian seorang mantan BMI juga penulis senior mengklaim bahwa BMI tidak seharusnya diremehkan hanya karena profesi mereka .

Ketika kita tidak memiliki cukup banyak kemampuan untuk membangun bangsa cukuplah kita menjadi penulis yang mampu membangkitkan semangat juang para generasi bangsa. Ingatlah peristiwa sejarah di masa lalu untuk membangkitkan dunia literasi kembali
Ingat kembali Masa kemerdekaan yang dipimpin oleh Soekarno, beliau mengatakan bahwa  agenda pemberantasan buta huruf menentukan martabat penguasa dan Negara Indonesia ( Djakarta, 27 Desember 1962). Simaklah pidato beliau:” … saja berkata, another greathest achievement is our success in our compaign against illiteracy, sukses kami dalam memberantas buta huruf ini adalah juga greates achievement. Bukan dsaja kita menang di medan peperangan, tetapi juga di dalam memberantas buta huruf kita talah mentjapai hasil jang sangat ‘Menjugemaken’ dan itu adalah pula salah satu great achievement.”  Mari kita lanjutkan perjuangan beliau untuk membangun negeri yang lebih bermartabat di mata dunia dengan menyemarakan kembali dunia litersi.
Kemampuan tulisan yang positif akan  mampu menyalurkan energi yang positif juga. Sejatinya menulis juga bagian dari amal jariyah bila apa yang kita tuliskan mengandung ilmu, wawasan, pengetahuan dan manfaat. Menulis juga akan mampu menenangkan pikiran, jiwa-jiwa yang gersang, mengurangi rasa setress telebih kita yang sebagai BMI sangat rawan dengan sesuatu yang berhubungan dengan polemik, Marilah kita menulis untuk menenangkan jiwa kita sendiri, mengobati kegersangan hati.

Menulis tidak harus muluk-muluk yang berintelektual tinggi baru kita mau menulis dan merasa tidak percaya diri untuk menggerakan pena kita. Acuhkan itu semua,  tapi rebahkan beban hidup pada kertas putih buku harianmu. Bila memang tujuanmu untuk menyalurkan ilmu banyak-banyaklah membaca dan tulis kembali apa yang kamu temukan dari hasil buku-buku bacaanmu lalu bagikan kepada khalayak, bila belum percaya diri untuk mengirimkan ke media masa cukup bagikan konten positifmu lewat jejaringan sosial yaitu dunia maya. Tentu sahabat BMI mayoritas memilikinya. (Sumber: Dunia blogging/ Pratiwi Retyaningdyah, Bandung Mawardi, Koran Tempo 11 Februari 2013, Komunitas Pejuang Pena dan dari berbagai sumber)
Salam pena Kreatif.


 Hong Kong, 1 Maret 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar