Panggung Literasi
Oleh : Murniasih
Dunia
literasi atau orang lebih mengenalnya dengan istilah dunia tulis menulis.
Menulis pada dasarnya sudah ada sejak jaman nenek moyang kita, baik pada batu,
daun, kulit binatang, kerang, tanah atau pun media lainya, semakin majunya
tekhnologi semakin baralih meunuju kertas, mesin ketik, hingga perangkat lunak
Microsof Word pada komputer.
Dunia
sastra tidak mungkin akan pudar sampai bumi ini berhenti. Sejarah dunia
literasi bisa kita simak dari abad ke-19 SASTRA “MELAYU LAMA” yang cukup berkembang
pesat. Pada tahun 1870-1942 PUJANGGA LAMA lahir, pada masa itu pekerjaan tulis
menulis dipandang sebagai pekerjaan mulia. Dari orang biasa, orang berpangkat
hingga Putra Mahkota. ANGKATAN BALAI
PUSTAKA lahir pada tahun 1920-1950,
PUJANGGA BARU pada tahun 1930-1942 dipelopori oleh Sutan
Takdir Alisjahbana atau dikenal dengan istilah STA, beliau adalah ahli bahasa
Indonesia, bahkan pada masa pendudukan jepang masih ada STA sudah melakukan modernisasai
bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa nasional yang menjadi pemersatu
bangsa. Tepatnya pada tahun 1936 beliau melakukan Tata Bahasa Baru Bahasa
Indonesia yang mana masih dipakai sampai sekarang. Gerakannya tidak hanya cukup
sampai di situ dengan pembuatan Kamus Istilah
yang berisi istilah-istilah baru yang dibutuhkan oleh Negara Baru yang
ingin mengejar modernisasi dalam berbagai bidang. Sebagai penulis ahli dan Ketua
Komisi Bahasa semasa pendudukan jepang hingga merdeka beliau belum bisa mewujudkan cita-cita terbesarnya yakni
menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantarkawasan di Asia Tenggara. Ia
kecewa , bahasa Inonesia semakin surut perkembangannya. Padahal masa sejarah
Bahasa Indonesia pernaha menggetarkan dunia linguistik saat dijadikan bahasa
persatuan untuk penduduk di 13.000 pulau di Nusantara .
Masa
Kemerdekaan yaitu Anggkatan tahun 45
seperti Chairil Anwar, Angkatan 50-an Pramoedya Ananata toer, Tahun 1960 dunia
literasi mengalami kemunduran karena pecahnya G30S di Indonesia. Angkatan 66-70
terbitnya majalah Horison, DASAWARSA 80-an seperti Yudistira Adinugraha, Remy
Sylado, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Arifin Noor Hasby. Tahun 1997 sebuah
oraganisasi kepenulisan lahir di Jakarta yang bernama Forum Lingkar Pena yang
didirikan oleh Helvi Tianarossa. Bak jamur di musim hujan sejak saat itu hingga
kini lahirlah penulis-penulis dan komunitas-komunitas baru. Sejak saat itu pulalah
dunia literasi mengalami perkambangan yang sangat tajam. Indonesia seperti terjangkit virus literasi.
Tidak dipungkiri semua mejatuhkan pilihan untuk mengembangkan bakatnya di dunia
literasi. Banyaknya pesaing malah membuat semangat lebih berkobar.
Di
Hong Kong sendiri dalam kurun waktu sepuluh tahun lebih, BMI yang melek
teknologi digital mencoba menyalurkan hobinya lewat jejaringan sosial baik
facebook, menulis di blog pribadi, alasannya
sebagai sarana produktif untuk menegosiasikan ruang geraknya. Menulis sendiri bisa sebagai sarana terapi jiwa begitu
menurut pendapat sastrawati yang bernama
Naning Pranoto. Sedangkan menurut Habiburrahman
El Shirazy atau lebih dikenal dengan Kang Abik
penulis terkenal ayat-ayat cinta, Ketika Cinta Bertasbih dan Api Tauhid
sendiri mengatakan menulis itu penting karena akan bisa membangun sebuah
peradaban. Ketika manusia mampu menulis ketika itu juga manusia akan berumur
panjang, maksudnya adalah ketika telah
mati maka masih ada karya yang akan
tetap hidup.
Maka
peristiwa sejarah tidak akan pernah ada, tanpa kita mau menuliskannya.
Sejarahlah yang mengajarkan kepada generasi penerusnya. Menulislah agar kita
bisa melahirkan pemikir dan para penggerak bangsa. Karena dengan menulis pula
akan mampu mengubah nasib seseorang,
lihatlah dari kebanyakan para pemimpin besar yang suka menulis seperti,
Kartini, Soekarno, Habibi, Susilobambang Yudhoyono, Walt Disney, Volt mereka
akan tetap abadi dalam sejarah.
Lahirnya komunitas-komunitas penulis seperti FLP (Forum
lingkar Pena) pada tahun 16 Februari
2004 dan kini telah hadir juga yaitu
Komunitas Penulis Kreatif(KPKers HK). Komunitas-komunitas ini turut andil
menuntun para BMI dalam menyalurkan hobi hingga menjadi manusia yang berdaya
dan menorehkan prestasinya. Dengan visi dan misi untuk membuka mata dunia bahwa
BMI memiliki sisi kehidupan yang lain dari sekedar buruh domestik. Dan diyakinkan dengan penuturan Dorotty
Holland “Seorang BMI itu cerdas, melek
tekhnologi dan mampu bersosialisasi(1998). Mega Vristian seorang mantan BMI
juga penulis senior mengklaim bahwa BMI tidak seharusnya diremehkan hanya
karena profesi mereka .
Ketika
kita tidak memiliki cukup banyak kemampuan untuk membangun bangsa cukuplah kita
menjadi penulis yang mampu membangkitkan semangat juang para generasi bangsa.
Ingatlah peristiwa sejarah di masa lalu untuk membangkitkan dunia literasi kembali
Ingat
kembali Masa kemerdekaan yang dipimpin oleh Soekarno, beliau mengatakan
bahwa agenda pemberantasan buta huruf
menentukan martabat penguasa dan Negara Indonesia ( Djakarta, 27 Desember
1962). Simaklah pidato beliau:” … saja berkata, another greathest achievement
is our success in our compaign against illiteracy, sukses kami dalam
memberantas buta huruf ini adalah juga greates achievement. Bukan dsaja kita
menang di medan peperangan, tetapi juga di dalam memberantas buta huruf kita
talah mentjapai hasil jang sangat ‘Menjugemaken’ dan itu adalah pula salah satu
great achievement.” Mari kita lanjutkan
perjuangan beliau untuk membangun negeri yang lebih bermartabat di mata dunia
dengan menyemarakan kembali dunia litersi.
Kemampuan
tulisan yang positif akan mampu
menyalurkan energi yang positif juga. Sejatinya menulis juga bagian dari amal
jariyah bila apa yang kita tuliskan mengandung ilmu, wawasan, pengetahuan dan
manfaat. Menulis juga akan mampu menenangkan pikiran, jiwa-jiwa yang gersang,
mengurangi rasa setress telebih kita yang sebagai BMI sangat rawan dengan sesuatu
yang berhubungan dengan polemik, Marilah kita menulis untuk menenangkan jiwa
kita sendiri, mengobati kegersangan hati.
Menulis
tidak harus muluk-muluk yang berintelektual tinggi baru kita mau menulis dan
merasa tidak percaya diri untuk menggerakan pena kita. Acuhkan itu semua, tapi rebahkan beban hidup pada kertas putih
buku harianmu. Bila memang tujuanmu untuk menyalurkan ilmu banyak-banyaklah
membaca dan tulis kembali apa yang kamu temukan dari hasil buku-buku bacaanmu
lalu bagikan kepada khalayak, bila belum percaya diri untuk mengirimkan ke
media masa cukup bagikan konten positifmu lewat jejaringan sosial yaitu dunia
maya. Tentu sahabat BMI mayoritas memilikinya. (Sumber: Dunia blogging/ Pratiwi
Retyaningdyah, Bandung Mawardi, Koran Tempo 11 Februari 2013, Komunitas Pejuang
Pena dan dari berbagai sumber)
Salam
pena Kreatif.
Hong Kong, 1 Maret 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar